SAPUJAGAT

pusat kajian ilmu Agama dan pencerahan Umat

DARAH KEBIASAAN WANITA ( HAID / MENTRUASI ) 8 Februari 2010

Filed under: Tak Berkategori — poskabsapujagat @ 13:06

MAKNA HAID DAN HIKMAHNYA
1. Makna Haid
Menurut bahasa, Haid berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut istilah syara ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu tertentu. Jadi Haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh susatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia adalah darah normal, maka darah tersebut berbeda sesuai dengan kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga perbedaan yang nyata pada setiap wanita.
2. Hikmah Haid.
Adapun hkmahnya, bahwa karena janin yang ada di dalam kandungan ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang dimakan oleh anak yang berada di luar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya, maka Allah Ta’ala telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tapa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin dalam kandungan melalui tali pusar, dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik – baiknya Perncipta.
Inilah hikmah haid, Karena itu, apabila seseorang wanita dalam keadaan hamil tidak mendapatkan haid lagi, kecuali jarang terjadi. Demikian pula wanita yang menyusui sedikit yang haid, terutama pada awal masa menyusui.

PASAL II
USIA DAN MASA HAID
1. Usia Haid
Usia haid biasanya antara 12 sampai dengan 50 tahun. Dan kemungkinan seorang wanita sudah mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun, atau masih mendapatkan haid sesudah usia 50 tahun. Itu semua tergantung pada kondisi, lingkungan dan iklim yang mempengaruhinya.
Para ulama, rahimahullah, bebbeda pendapat tentang apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, di mana seorang wanita tidak mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut?
Ad- Darimi, setelah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini, mengatakan: ‘ Hal ini semua, menurut saya keliru. Sebab yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimanapun, dan pada usia berapapun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan hanya Allah yang Maha Tahu.
Pendapat Ad – Damiri inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi, kapanpun seorang wanita mendapatkan darah haid, meskipun usianya belum mencapai 9 tahun atau di atas 50 tahun, Sebab, Allah dan Rasu- Nya mengaitkan hukum – hukum haid pada keberadaan darah tersebut, serta tidak memberikan batasan usia tertentu.. Maka dalam masalah ini wajib mengacu kepada keberadaan darah yang telah dijadikan sandaran hukum.
2. Masa Haid
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini.
Ibnu Al – Mundzir mengatakan: “ Ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan beberapa hari minimal atau maksimalnya”

Dalil pertama:

Firman Allah Ta’ala:
“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatinya sebelum mereka suci” ( Al -Baqarah:222)
Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai larangan adalah batas kesucian, bukan berlalunya sehari semalam, ataupun tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukan bahwa illat ( alasan ) hukumnya adalah haid, yakni ada atau tidaknya. Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci tidak berlaku lagi hukum – hukum tersebut.

Dali Kedua

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa nabi telah bersabda kepada Aisyah yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah:
“ Lakukanlah apa yang dilakukan jema’ah haji, hanya saja jangan melakukan tawaf di Ka’bah sebelum kamu suci.”

Dalil Ketiga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam satu kaidah yang dibahasnya, megatakan :
“ Di antara sebutan yang dikaitkan oleh Allah dengan berbagai hukum dalam kitab dan sunah, yaitu sebutan haid. Allah tidak menentukan batas minimal dan maksimalnya,ataupun masa suci di antara dua haid. Padahal umat membutuhkanya dan banyak cobaan yang menimpa mereka karenanya. Bahasapun tidak membedakan antara satu batasan dengan batasan lainnya. Maka barang siapa menentukan suatu batasan dalam masalah ini, berarti dia telah menyalahi Kitab dan Sunnah “.

Dalil Keempat.

Logika atau qiyas yang benar dan umu sifatnya, Yakni, bahwa Allah menerangkan illat haid sebagai kotoran. Maka manakala haid itu ada, berarti kotoranpun ada. Tidak ada perbedaan antara hari kedua dengan hari pertama, antara hari ketiga dan keempat dan seterusnya, haid adalah haid kotoran adalah kotoran.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “ Pada prinsifnya, setiap darah yang ke luar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukan darah itu istihadhah,”
Kata beliau pula: “ Maka darah yang keluar adalah haid, bila tidak diketahui sebagai darah penyakit atau karena luka.”

3. Haid wanita hamil
Pada umumnya, seorang wanita jika dalam keadaan hamil akan berhenti haid ( menstruasi ). Kata Imam Ahmad, rahimahullah .” Kaum wanita dapat mengetahui adanya kehamilan dengan berhentinya haid”.
Apabila wanita mengeluarkan darah sesaat sebelum kelahiran ( dua atau tiga hari ) dengan disetai rasa sakit, maka darah tersebut adalah darah nifas. Tetapi jika terjadi jauh hari sebelum kelahiran atau mendekati kelahiran tanpa disertai rasa sakit, maka darah itu bukan darah nifas. Jika bukan apakah darah itu termasuk darah haid? Ada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam masalah ini.
Dan pendapat yang benar, bahwa darah tadi adalah darah haid apabila terjadi pada wanita menurut kebiasaan waktu haid baginya. Sebab pada prinsifnya, darah yang terjadi pada wanita adalah darah haid selama tidak ada sebab yang menolaknya sebagai darah haid. Dan tidak ada keterangan dalam Al – Qur’an maupun sunnah yang menolak kemungkinan terjadinya haid pada wanita hamil.
Dengan demikian berlakulah pada haid wanita hamil apa yang juga berlaku haid pada wanita tidak hamil. Kecuali dalam dua masalah :
1. Talak.
Diharamkan mentalak wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi tidak diharamkan terhadap wanita hamil. Sebab talak dalam keadaan haid terhadap wanita tidak hamil menyalahi firma Allah Ta’ala:
“ ….Apabila kamu menceraikan isteri – isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat ( menghadapi ) iddahnya ( yang wajar )….” ( Ath- Thalaaq : 1 )
Adapun mentalak wanita hamil dalam keadaan haid tidak menyalahi firman Allah. Sebab siapa yang mentalak wamita hamil berarti ia mentalaknya pada sa’at dapat menghadapi masa iddahnya, baik dalam keadaan haid maupun suci. Karena masa iddahnya dengan kehamilan. Untuk itu tidak diharamkan mentalak wanita hamil sekalipun setelah melakukan jima, dan berbeda hukumnya dengan wanita tidak hamil.
2. Iddah.
Bagi wanita hamil iddahnya berakhir dengan melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. Berdasarkan firman Allah:
“ Dan perempuan – perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” ( Ath- Thalaaq :4 )

PASAL III
HAL -HAL DILUAR KEBIASAAN HAID
1. Bertambah atau berkurangnya masa haid
2. Maju atau mundur waktu datangnya haid
3. Darah berwarna kuning atau keruh
4. Darah haid keluar secara terputus – putus.
5. Terjadinya pengeringan darah.

PASAL 4
HUKUM – HUKUM HAID.
Untuk pasal III dan 4 akan diterangankan lebih detil pada waktu akan datang
Terima kasih.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s