SAPUJAGAT

pusat kajian ilmu Agama dan pencerahan Umat

TATA CARA MENANGKAL DAN MENANGGULANGI SIHIR 9 Februari 2010

Filed under: Tak Berkategori — poskabsapujagat @ 08:26
Tags:

Allah telah mensyaria’atkan kepada hamba- Nya supaya mereka menjauhkan diri dari kejahatan sihir sebelum terjadi pada diri mereka, dan Allah menjelaskan pula tentang bagaimana cara mengobatinya bila ia terjadi pada diri mereka. Ini merukan rahmat dan kasih saying Allah, kebaikan dan kesempurnaan nikmat-Nya kepada hambanya.
Berikut ini beberapa penjelasan tentang usaha menjaga diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, begitu pula usaha dan cara pengobatannya bila terkena sihir, yakni cara yang dibolehkan menurut hukum syara:
A Tindakan Prefentip yakni usaha menjauhkan diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, cara yang paling penting dan paling bermanfa’at ialah penjagaan dengan melakukan dzikir yang disyaria’atkan, membaca do’a dan ta’awwudz sesuai dengan tuntunan Rasulallah saw diantaranya seperti di bawah ini :
1 .Membaca ayat Kursi setiap selesai melaksanakan shalat lima waktu, sesudah membaca wirid yang di syaria’kan ba’da salam, atau di baca ketika hendak berangkat tidur. Karena ayat Kursi termasuk ayat yang paling besar nilainya di dalam Al – Qur’an. Rasulallah saw bersabda dalam salah satu hadist shahihnya :
“ Barang siapa yang membaca ayat Kursi pada malam hari, Allah senantiasa menjaganya dan Syaithan tidak akan mendekatinya sampai subuh”.
2. Membaca surat Al – Ikhlas, surat Al – Falaq, dan surat An- Naas pada setiap selesai shalat lima waktu. Dan membaca ketiga surat tadi pada setiap pagi hari setelah shalat subuh, dan menjelang malan setelah shalat maghrib, sesuai dengan Hadist riwayat Abu Daud, Turmizi dan Nasai.
3. Membaca dua ayat terakhir dari surat Al – Baqarah ayat 285 – 286, pada permulaan malam, sebagaimana sabda Rasulallah saw:
“ Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari s. Al – Baqarah pada malam hari maka ia akan terpelihara dari kejahatan.”
4. Banyak membaca Ta’awudz dengan menggunakan kalimah Allah yang sempurna untuk memohon perlingdungan diri dari kejahatan yang Allah ciptakan.
Hendaknya dibaca pada malam hari dan siang hari ketika barada dalam suatu tempat, ketika masuk kedalam suatu gedung / bangunan, ketika berada di tengah padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasulallah :
“ Barang siapa yang turun di suatu tempat dan dia berkarta, “ A’udzu bi kalimaatillah at- taammaati min syarri ma khalaq” aku berlindung dengan kalimat – kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah diciptakan.” Tidak ada sesuatupun yang membahayakan sampai ia pergi dari tempat itu.”
B. Dengan bacaac ini pula merupakan senjata ampuh untuk menghilangkan sihir tang sedang menimpa seseorang, di baca dengan hati yang khusu, tunduk dan merendahkan diri, seraya memohon kepada Allah agar dihilangkan bahaya dan malapetaka yang dihadapi.
Do’a – do’a berdasarkan riwayat yang kuat dari Rasulallah saw, untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh sihir dan lain sebagainya seperti berikut :
1. Rasulallah saw menjampe sahabat – sahabatnya dengan bacaan:
“ Ya Allah, Rabban- Naas…… hilangkan sakit dan sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan dari Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” ( HR. Bukhari )
2. Do’a yang dibaca Jibril ketika menjampe Rasulallah:
“ Dengan nama Allah, aku menjampimu dari segala yang menyakitkanmu, dari kejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku menjampimu.”
Bacaan ini harus diulang tiga kali.
3. Pengobatan sihir cara lainnya
Buat laki – laki yang tidak bisa berjimak dengan isterinya karena gangguan sihir cara pengobatannya yakni dengan cara:
Ambilah tujuh buah daun bidara tumbuk hingga halus,masukan kedalam sebuah wadah dan tuangkan air kedalamnya secukupnya untuk mandi, tetapi sebelumya bacaan kedalam wadah tersebut , surat Kafirun, surat Al –Ikhlas, surat Al –Falaq, surat An – Naas, dan ayat – ayat sihir dalam Surat Al –Araf ayat 117 – 119, surat Yunus ayat 79 – 82, dan surat Thaha ayat 65 – 69..
Setelah selesai semuanya hendaklah air itu di minum sedikit dan selebihnya untuk mandi.dengan niat meminta kesembuhan kepada Allah.
4. Cara pengobatan lainya.
Sebagai cara yang paling bermanfa’at ialah berupaya mengerahkan tenaga dan upaya untuk mengetahui di mana tempat sihir terjadi, di gunung, atau dimanapun dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan dimusnahkan sehinnga lenyaplah sihir tersebut.

 

DARAH KEBIASAAN WANITA ( HAID / MENTRUASI ) 8 Februari 2010

Filed under: Tak Berkategori — poskabsapujagat @ 13:06

MAKNA HAID DAN HIKMAHNYA
1. Makna Haid
Menurut bahasa, Haid berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut istilah syara ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu tertentu. Jadi Haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh susatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia adalah darah normal, maka darah tersebut berbeda sesuai dengan kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga perbedaan yang nyata pada setiap wanita.
2. Hikmah Haid.
Adapun hkmahnya, bahwa karena janin yang ada di dalam kandungan ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang dimakan oleh anak yang berada di luar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya, maka Allah Ta’ala telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tapa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin dalam kandungan melalui tali pusar, dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik – baiknya Perncipta.
Inilah hikmah haid, Karena itu, apabila seseorang wanita dalam keadaan hamil tidak mendapatkan haid lagi, kecuali jarang terjadi. Demikian pula wanita yang menyusui sedikit yang haid, terutama pada awal masa menyusui.

PASAL II
USIA DAN MASA HAID
1. Usia Haid
Usia haid biasanya antara 12 sampai dengan 50 tahun. Dan kemungkinan seorang wanita sudah mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun, atau masih mendapatkan haid sesudah usia 50 tahun. Itu semua tergantung pada kondisi, lingkungan dan iklim yang mempengaruhinya.
Para ulama, rahimahullah, bebbeda pendapat tentang apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, di mana seorang wanita tidak mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut?
Ad- Darimi, setelah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini, mengatakan: ‘ Hal ini semua, menurut saya keliru. Sebab yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimanapun, dan pada usia berapapun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan hanya Allah yang Maha Tahu.
Pendapat Ad – Damiri inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi, kapanpun seorang wanita mendapatkan darah haid, meskipun usianya belum mencapai 9 tahun atau di atas 50 tahun, Sebab, Allah dan Rasu- Nya mengaitkan hukum – hukum haid pada keberadaan darah tersebut, serta tidak memberikan batasan usia tertentu.. Maka dalam masalah ini wajib mengacu kepada keberadaan darah yang telah dijadikan sandaran hukum.
2. Masa Haid
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini.
Ibnu Al – Mundzir mengatakan: “ Ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan beberapa hari minimal atau maksimalnya”

Dalil pertama:

Firman Allah Ta’ala:
“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatinya sebelum mereka suci” ( Al -Baqarah:222)
Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai larangan adalah batas kesucian, bukan berlalunya sehari semalam, ataupun tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukan bahwa illat ( alasan ) hukumnya adalah haid, yakni ada atau tidaknya. Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci tidak berlaku lagi hukum – hukum tersebut.

Dali Kedua

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa nabi telah bersabda kepada Aisyah yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah:
“ Lakukanlah apa yang dilakukan jema’ah haji, hanya saja jangan melakukan tawaf di Ka’bah sebelum kamu suci.”

Dalil Ketiga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam satu kaidah yang dibahasnya, megatakan :
“ Di antara sebutan yang dikaitkan oleh Allah dengan berbagai hukum dalam kitab dan sunah, yaitu sebutan haid. Allah tidak menentukan batas minimal dan maksimalnya,ataupun masa suci di antara dua haid. Padahal umat membutuhkanya dan banyak cobaan yang menimpa mereka karenanya. Bahasapun tidak membedakan antara satu batasan dengan batasan lainnya. Maka barang siapa menentukan suatu batasan dalam masalah ini, berarti dia telah menyalahi Kitab dan Sunnah “.

Dalil Keempat.

Logika atau qiyas yang benar dan umu sifatnya, Yakni, bahwa Allah menerangkan illat haid sebagai kotoran. Maka manakala haid itu ada, berarti kotoranpun ada. Tidak ada perbedaan antara hari kedua dengan hari pertama, antara hari ketiga dan keempat dan seterusnya, haid adalah haid kotoran adalah kotoran.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “ Pada prinsifnya, setiap darah yang ke luar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukan darah itu istihadhah,”
Kata beliau pula: “ Maka darah yang keluar adalah haid, bila tidak diketahui sebagai darah penyakit atau karena luka.”

3. Haid wanita hamil
Pada umumnya, seorang wanita jika dalam keadaan hamil akan berhenti haid ( menstruasi ). Kata Imam Ahmad, rahimahullah .” Kaum wanita dapat mengetahui adanya kehamilan dengan berhentinya haid”.
Apabila wanita mengeluarkan darah sesaat sebelum kelahiran ( dua atau tiga hari ) dengan disetai rasa sakit, maka darah tersebut adalah darah nifas. Tetapi jika terjadi jauh hari sebelum kelahiran atau mendekati kelahiran tanpa disertai rasa sakit, maka darah itu bukan darah nifas. Jika bukan apakah darah itu termasuk darah haid? Ada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam masalah ini.
Dan pendapat yang benar, bahwa darah tadi adalah darah haid apabila terjadi pada wanita menurut kebiasaan waktu haid baginya. Sebab pada prinsifnya, darah yang terjadi pada wanita adalah darah haid selama tidak ada sebab yang menolaknya sebagai darah haid. Dan tidak ada keterangan dalam Al – Qur’an maupun sunnah yang menolak kemungkinan terjadinya haid pada wanita hamil.
Dengan demikian berlakulah pada haid wanita hamil apa yang juga berlaku haid pada wanita tidak hamil. Kecuali dalam dua masalah :
1. Talak.
Diharamkan mentalak wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi tidak diharamkan terhadap wanita hamil. Sebab talak dalam keadaan haid terhadap wanita tidak hamil menyalahi firma Allah Ta’ala:
“ ….Apabila kamu menceraikan isteri – isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat ( menghadapi ) iddahnya ( yang wajar )….” ( Ath- Thalaaq : 1 )
Adapun mentalak wanita hamil dalam keadaan haid tidak menyalahi firman Allah. Sebab siapa yang mentalak wamita hamil berarti ia mentalaknya pada sa’at dapat menghadapi masa iddahnya, baik dalam keadaan haid maupun suci. Karena masa iddahnya dengan kehamilan. Untuk itu tidak diharamkan mentalak wanita hamil sekalipun setelah melakukan jima, dan berbeda hukumnya dengan wanita tidak hamil.
2. Iddah.
Bagi wanita hamil iddahnya berakhir dengan melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. Berdasarkan firman Allah:
“ Dan perempuan – perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” ( Ath- Thalaaq :4 )

PASAL III
HAL -HAL DILUAR KEBIASAAN HAID
1. Bertambah atau berkurangnya masa haid
2. Maju atau mundur waktu datangnya haid
3. Darah berwarna kuning atau keruh
4. Darah haid keluar secara terputus – putus.
5. Terjadinya pengeringan darah.

PASAL 4
HUKUM – HUKUM HAID.
Untuk pasal III dan 4 akan diterangankan lebih detil pada waktu akan datang
Terima kasih.

 

TUTORIAL HUBUNGAN SEX MENURUT ISLAM DAN RASULALLAH. 2 Februari 2010

Filed under: Tak Berkategori — poskabsapujagat @ 12:26

A. Memilih waktu dan hari yang baik
Bahwa seorang suami boleh – boleh saja melakukan hubungan sex dengan istrinya pada setiap saat,baik siang hari maupun pada malam hari.
Allah berfirman :

“ Istri – istrimu adalah ( seperti ) tanah tempat kamu bercocok tanam maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.”
Menurut sebagian ulama bahwa “ Annaa Sya,tum “ di dalam ayat tersebut diberi ta,wil ( pengertian ) “kapan saja anda berkepentingan melakukan hubungan sex, baik di waktu siang maupun malam. Akan tetapi untuk melakukan hubungan sex dengan istri hendaknya di waktu afdhal yaitu pada saat permulaan malam ( ba,da shalat Isya ).
Imam Abu Abdillah bin Al – Haj mengatakan bahwa anda diperkenankan memilih dalam melakukan hubungan sex dengan istrinya, antara waktu permulaan malam, atau pada saat – saat akhir malam. Akan tetapi melakukan hubungan sex pada permulaan malam itu lebih utama. Sebab kesempatan untuk melakukan mandi hadas besar lebih leluasa, hal ini tentu berbeda jika melakukan hubungan sex tersebut pada akhir malam, kadang – kadang waktu untuk mandi hadas besar jadi sempit, sehingga bisa mengakibatkan keikut sertaannya dalan shalat subuh jadi terabaiakan.
Juga bahwa bersetubuh yang dilakukan pada akhir malam, juga ia baru dalam keadaan bangun tidur, sehingga bau mulut praktis tidak sedap, maka hal ini dapat menimbulkan kebencian hati, padahal maksud dalam melakukan hubungan sex tersebut adalah untuk menumbuhkan kemesraan, keharmonisan hidup rumah tangga dan kasih sayang.
Imam Al – Ghazali berkata , bersetubuh dengan istrinya dilakukan pada sa’at permulaan malam adalah makruh hukumnya.
Adalah sunah hukumnya melakukan hubungan sex dengan istrinya pada malam jum’at. Sebab malam jum’at adalah malam yang paling utama daripada malam hari yang lainnya.
Rasulallah telah bersada:

“ Allah semoga melimpahkan rahmat – Nya kepada orang – orang yang mau melakukan hal yang menyebabkan orang lain harus mandi ( bersetubuh ) dan juga dirinya sendiri harus mandi. ( HR. Ash – habus Sunan )
Imam Suyuthi berkata, haist yang tersebut di atas tadi,diperkuat oleh hadist yang lainnya yang berbunyi:

‘ Adakah salah seorang diantara kalian mampu melakukan hubungan sex dengan istrinya pada setiap hari jum’at. Sebab bagi seorang tersebut akan memperoleh dua pahala, yaitu mandinya dia sendiri dan pahala mandinya istrinya. ( HR. Al – Baihaqi )
Disamping hal tersebut di atas, yang termasuk tatakrama dalam bersetubuh adalah, memulainya dengan bercengkrama dahulu dan mencium istrinya sehingga bangkitlah gairah nafsu sexualnya.

Rasulallah telah bersabda :

“ Hendaklah salah seorang diantara kalian , jangan sampai bersetubuh dengan istrinya seperti bersetubuhnya seekor binatang. Hendaklah ( Kalian bersetubuh itu ) diantara mereka berdua ( suami – istri ) ada perantaranya. Salah seorang sahabat bertanya. Apakah yang dimaksud perantara itu ? Nabi bersabda : ‘ Yaitu ( memulai ) dengan ciuman dan bercengkrama.
B. Hindari perut kenyang dan rasa lelah
Ketika seseorang hendak melakukan hubungan sex dengan istrinya, hendaklah dilakukan dalam keadaan perut tidak teras kenyang dan badan dalam keadaan ringan ( sehat ). Karena bersetubuh dalam keadaan perut kenyang akan banyak menimbulkan risiko kesehatan, dan dapat menimbulkan penyakit persendiian dan lain – lain.
Ada tiga hal yang kadang – kadang bias membuat orang tidak berdaya yaitu :
Bersetubuh dalam keadaan perut lapar, perut kenyang, dan setelah makan daging yang dikeringkan.
C. Hindari Bersetubuh waktu isteri Haid.
Bahwa melakukan hubungan sex dengan isterinya pada waktu haid adalah Haram hukumnya, Allah berpirman :
“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah “ Haid itu adalah kotoran “. Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri ( jangan sampai melakukan hibungan sex ).
Didalam kitab “ Al – Qasthalani “ dijelaskan, bahwa bersetubuh dengan isterinya yang sedang haid adalah haram hukumnya,sesuai dengan kesepakatan para ulama. Jadi jika ada orang yang menyakini bahwa perbuatan itu halal maka kufurlah ia.”
Di dalam kitab “ Umdah “ diterangkan bahwa larangan bersetubuh dengan isterinya yang sedang haid semata – mata karena ta’at atas larangan Allah.
D. Empat Malam yang perlu dihindari
1. Malam hari raya Qurban ( ‘Idul adha )
2. Malam pertama dari setiap bulan
3. Malam pertengahan dari setiap bulan
4. Malam terakhir dari setiap bulan.
Tentang dasar perlunya menangguhkan keinginan bersetubuh pada malam – malam tersebut adalah :
1. Nabi telah bersabda :
“ Hendaklah kamu jangan bersetubuh di malam awal bulan “
2. Imam Al – Ghazali rahimuullah “ Bersetubuh pada tiga malam di awal, akhir dan pertengahan tiap bulan adalah makruh “
3. Tentang hukum hukum makruh melakukan hubungan sex di malam – malam tersebut, juga ada sebuah riwayat dari Saydina Ali, Mu’awiyah, dan Abu Huraurah r.a.
E. Hindari bersetubuh sa’at haus dan emosi.
Bila seseorang ingin melakukan hubungan sex dengan isterinya, sedang ia dalam keadaan haus sekali, lapar dam emosi maka sebaiknya keinginan itu ditunda saja. Sebab hal ini dapat melumpuhkan kekuatan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Al – razi.
Demikian pula ketika ia sedang dalam puncak kegirangan yang berlebihan, kesedihan yang mendalam dan ketika ia dalam kondisi kurang tidur. Karena bersetubuh dalam keadaan dan kondisi tersebut dapat melumpuhkan kekuatan.

 

Halo dunia! 24 Januari 2010

Filed under: Tak Berkategori — poskabsapujagat @ 17:24

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.